Jawaban Presiden-SBY : Parpol & Politisi Justru Mengaburkan Permasalahan

Permasalahan adalah setiap kejadian keadaan yang kita hadapi, yang menimbulkan pertanyaan bagaimana keadaan kejadian itu, apa sebabnya maka timbul kejadian itu, apa akibatnya kalau kejadian itu tidak diatasi, apa hubungan kejadian itu dengan kejadian lain, dan bagaimana akhirnya.

Selama jawabannya belum pasti, paling sedikit jawabannya sudah merupakan konsesus, maka selama itulah kejadian itu menjadi masalah.

Bom yang meledak di Kompleks Mega Kuningan Jakarta  yang memporak-porandakan Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada hari Jumat, tanggal 17 Juli 2009 sekitar pukul 07.30 menjadi permasalahan yang harus segera mendapatkan jawabannya.


SBY menunjukkan fotonya yang diancam tembakan yang menurutnya salah satu temuan intelijen adanya upaya teror terhadapnya.

Presiden RI – SBY bersama-sama dengan Kabinetnya, secara pro aktif segera melakukan rapat membahas permasalahan peledakan bom tersebut guna mendapatkan jawabannya untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Keterangan pers Presiden RI – SBY di Istana Kepresidenan merupakan suatu penyampaian jawaban terhadap permasalahan kejadiaan keadaan yang sementara dihadapi oleh Pemerintah dan Masyarakat Indonesia, yakni adanya peledakan bom di Kompleks Mega Kuningan Jakarta.

Isi Pidato Kenegaraan Presiden RI – SBY, antara lain yang dapat Saya kutip adalah sebagai berikut :

Berdasarkan laporan intelijen, ada gerakan-gerakan di masyarakat yang memang menginginkan terjadinya kekacauan pasca penyelenggaraan pemilihan umum Presiden.

“Diketahui ada rencana untuk melakukan tindak kekerasan dan melawan hukum berkaitan dengan hasil pemilu. Juga ada rencana pendudukan paksa di Kantor KPU pada saat nanti hasil suara diumumkan. Ada pernyataan akan ada revolusi jika SBY menang. Ini bukan rumor, bukan gosip. Bahkan ada pernyataan kita bikin Indonesia seperti Iran. Bagaimanapun juga SBY jangan sampai dilantik. Saudara bisa artikan pernyataan seperti itu,”

Presiden juga membeberkan temuan intelijen yang selama ini tidak pernah diungkap kepada publik. Antara lain, Presiden menunjukkan foto-foto kelompok teroris yang menjadikan dirinya sebagai sasaran.

SBY mengatakan, peristiwa Bom di Kompleks Mega Kuningan Jakarta terjadi ketika rakyat merasa prihatin akan kegaduhan politik di tingkat elite disertai ucapan-ucapan yang menurut Presiden bernada menghasut dan memelihara suhu panas dan penuh permusuhan.

“Saya juga menginstruksikan penegak hukum untuk mengadili siapa saja yang terlibat, siapa pun dia, apa pun status dan latar belakang politiknya.

Pagi ini saya mendapat banyak pertanyaan atau ada saudara yang mengingatkan kepada saya, yang berteori atau paling tidak mencemaskan kalau aksi teror ini berkaitan dengan hasil pilpres. Saya meresponsnya sebagai berikut : bahwa kita tidak boleh main tuding begitu saja. Semua teori dan spekulasi harus bisa dibuktikan secara hukum. Negara kita negara hukum dan demokrasi. Oleh karena itu, norma hukum dan demokrasi harus ditegakkan,” ungkap Presiden.

Maksud dan tujuan dari pada keterangan pers Presiden SBY tersebut diatas, adalah untuk memberikan rasa tenang dan tidak ada lagi keresahan ditengah-tengah masyarakat.

Masyarakat Indonesia telah mendapatkan jawaban resmi dari Pemerintah – Presiden SBY menyangkut permasalahan peledakan Bom tersebut. Dan kini masyarakat Indonesia telah tenang dan tidak resah lagi.

Namun dengan adanya pernyataan-pernyataan dari para petinggi partai politik dan para politisi, masyarakat Indonesia menjadi bingung.

Dapat disimak beberapa cuplikan pernyataan dari para petinggi partai dan para politisi, sebagai berikut :

Jumat, 17 Juli 2009 | 14:01 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Suhartono

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga kandidat presiden dalam pemilu lalu, menegaskan ledakan yang terjadi pagi ini di kawasan Mega Kuningan tak ada hubungannya dengan pelaksanaan pemilihan presiden yang baru lalu.

Apalagi, dikaitkan dengan kegagalannya sebagai calon presiden bersama calon presiden lainnya, Megawati Soekarnoputri. Hal itu ditegaskan oleh Wapres saat memberikan keterangan pers usai shalat Jumat di kantor Wapres, Jakarta, Jumat (17/7). “Ah tidak ada itu, jadi dikira Megawati dan Saya yang melakukan itu?!” tandas Kalla.

Menurut Kalla, berbicara soal ledakan bom tidak bisa diprediksi sebagai pekerjaan yang dilakukan dalam satu atau dua minggu. “Lihatlah contohnya bom Bali. dari pengalaman kasus-kasus tersebut perencanaan peledakan bom dilaksanakan berbulan-bulan melalui survei, pemantauan dan perencanaan matang,” tambah Kalla.

Jumat, 17 Juli 2009 | 18:29 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengatakan, pihak yang menyebutkan punya bukti bahwa dirinya menjadi sasaran tembak seharusnya mengungkap hal tersebut. Pernyataan Mega ini terkait pernyataan SBY yang membeberkan bukti foto bahwa dirinya menjadi sasaran tembak pihak-pihak yang tak menyukainya.

“Ada yang mengatakan sudah tahu (menjadi sasaran), kok dibiarkan. Kalau sudah tahu ya segera diungkap,” ujar Mega, menjawab pertanyaan wartawan, di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Jumat (17/7) sore.

Sebagai seorang pemimpin, menurutnya, harus menyadari ada risiko yang mungkin menimpa dirinya. “Sebagai contoh, Presiden Soekarno, mengalami 23 kali ancaman pembunuhan, mulai dari rencana sampai eksekusinya,” kata Mega.

Jika bukti-bukti tersebut dibeberkan, menurut Mega, tidak tepat pada suasana prihatin dengan tragedi peledakan.

Sabtu, 18 Juli 2009 | 18:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.comPernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan akan ada kelompok yang menduduki kantor KPU karena tak puas dengan hasil pilpres dalam pidatonya kemarin dinilai menuding pasangan capres dan cawapres lainnya sebagai pihak yang tidak siap kalah dalam pilpres 2009.

Anggota Tim Advokasi pasangan Mega-Prabowo, Arteria Dahlan menyayangkan pernyataan SBY tersebut. “Ada sinyalemen bahwa dalam penyampaian keberatan dalam sidang KPU nanti diartikan bahwa kami tidak siap kalah,” kata Arteria dalam keterangan pers bersama di Kantor DPP Golkar, Sabtu (18/7).

Arteria mengatakan pernyataan SBY itu telah menimbulkan sikap tidak saling percaya tak hanya di kalangan elit tapi juga di kalangan akar rumput. “Menyesatkan, memperkeruh dan menghangatkan kondisi politik yang sebenarnya sudah cukup kondusif,” lanjut Arteria.

Padahal menurut Arteria, SBY seharusnya justru berupaya mempersatukan bangsa melawan terorisme. Arteria juga menyinggung bahwa fakta dan bukti yang disebutkan SBY dalam pidatonya kemarin tidak perlu disebarkan ke publik karena merupakan konsumsi internal dan berstatus rahasia negara. “Artinya pengungkapan info intelijen di depan publik merupakan pembongkaran rahasia negara dan itu melanggar UU,” tandas Arteria.

Sabtu, 18 Juli 2009 | 17:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.comMenanggapi pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai berbau politis dan justru menyebar keresahan di tengah masyarakat, Tim Kampanye Nasional pasangan capres dan cawapres Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto mendesak DPR untuk memroses indikasi pelanggaran konstitusi dan etika dalam acara pidato tersebut.

“DPR harus segera didesak mewakili rakyat untuk mengonfirmasi pernyataan-pernyataan yang tidak tepat karena menimbulkan ketidaknyamanan di tengah masyarakat,” kata Koordinator Tim Advokasi pasangan Mega-Prabowo, Gayus Lumbuun dalam keterangan pers di Kantor DPP Golkar, Sabtu (18/7).

Menurut Gayus, DPR memiliki hak meminta pendapat kepada Presiden SBY atas dugaan melakukan perbuatan tercela melalui pidatonya kemarin. DPR pun bertanggung jawab untuk menindaklanjuti meski pada saat ini sedang reses.

Namun, Gayus mengatakan DPR dapat mengusahakannya dengan menggelar rapat-rapat bersifat luar biasa dan rapat Badan Musyawarah (Bamus) yang berujung pada kesepakatan terhadap rapat paripurna luar biasa. Jika DPR sepakat mengenai indikasi ini, DPR dapat membawanya ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk ditindaklanjuti secara hukum.

Akhirnya, lanjut Gayus, jika MK pun sepakat bahwa Presiden melakukan perbuatan tercela, maka hasilnya dilimpahkan ke Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). MPR nantinya yang akan menjatuhkan sanksi kepada Presiden. Pasal 7 a UUD 1945 mengharuskan presiden dan wapres tidak melakukan pelanggaran hukum, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela. Sementara itu, pasal 7 b mengamanatkan bahwa proses mengadili dan mendapatkan putusan diawali oleh pendapat DPR.

Pernyataan-pernyataan para petinggi partai politik dan para politisi tersebut diatas, telah masuk pada ranah politik praktis.

Terkesan para petinggi partai politik dan para politisi seolah-olah mengaburkan jawaban atas permasalahan kejadian keadaan peledakan bom di Kompleks Mega Kuningan Jakarta.

Negara Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan didiami oleh berbagai macam suku dengan beraneka ragam bahasa dan adat istiadat serta penduduknya memeluk beberapa macam agama, tidak semuanya memahami politik praktis.

Sewajarnya para petinggi partai politik dan para politisi yang merupakan negarawan Indonesia, memberikan jaminan rasa aman dan tidak adanya keresahan ditengah-tengah masyarakat Indonesia.

Masyarakat Indonesia sudah muak terhadap perilaku, sikap, dan tindakan para petinggi partai politik dan para politisi yang mempertontonkan persaingan tidak sehat, perselisihan, saling menghujat, dan saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya.

Masyarakat Indonesia hanya memahami apa yang telah disampaikan oleh pihak Pemerintah, adalah sesuatu yang menjadi dasar utama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Semoga para negarawan Indonesia dapat bersatu padu dalam memberikan suasana kesejukan, rasa aman dan tenteram serta rasa memiliki ketenangan ditengah-tengah masyarakat.

Rafans – Manado, 19 Juli 2009,-

2 Tanggapan

  1. Tampaknya mereka lagi berlatih propaganda. kembali ke jaman dulu, kalau perlu mereka meniru cara preman lempar batu sembunyi tangan dan maling teriak maling.

  2. Selagi masih bisa bicara,,tak apalah so pasti berdasarkan bukti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: