Bom Jakarta : Beragam Tanggapan

Kembali masyarakat Indonesia dikejutkan dengan ledakan bom yang terjadi di Kawasan Mega Kuningan Jakarta. Kejadiannya yakni pada hari Jumat, 17 Juli 2009 sekitar pukul 07.30. Bom yang meledak mampu memporak-porandakan Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.

Korban pun bergelimpangan. Baik korban jiwa maupun yang hanya luka ringan dan luka berat, termasuk warga negara asing yang berjumlah sekitar 18 orang.

Pasca peledakan bom tersebut, berbagai tanggapan muncul mulai  dari masyarakat umum, selebriti, para ahli, pejabat, politisi, presiden juga tanggapan dari luar negeri.

Berikut ini adalah cuplikan sebagian tanggapan pasca peledakan bom di Kawasan Mega Kuningan Jakarta :

Nia Dinata: Pemerintah Harus Tegas Tangani Kasus Bom

Jum’at, 17 Juli 2009 23:36

Kapanlagi.com – Teror bom di JW Marriott dan Ritz Carlton mengundang keprihatinan dan kutukan pada para pelakunya. Sejumlah kalangan menyampaikan keprihatinan dan kutukan termasuk artis dan sutradara Nia Dinata.

“Pemerintah harus bersikap tegas atas kasus ini, karena jika tidak maka akan berdampak luas pada kondisi ekonomi dalam negeri termasuk industri film kita yang sedang bangkit,” ujar Nia Dinata saat ditemui di acara pembukaan KidsFfest Indonesia 2009 di Jakarta, Jumat (17/7).

Lihat Biografi Ersa Mayori

Ersa Mayori Minta Pemerintah Usut Kasus Ledakan Bom

Sabtu, 18 Juli 2009 06:35

Kapanlagi.com – Artis Ersa Mayori meminta pemerintah mengusut dengan tuntas dan menghukum para pelaku peledakan bom yang terjadi di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang menewaskan delapan orang.

“Tragedi bom telah memperburuk citra Indonesia, karena itu pemerintah harus mencari dan menghukum berat pelaku,” kata Ersa Mayori (30), usai membawakan acara festival film anak di Jakarta, Jumat (17/7).


Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

Jumat, 17 Juli 2009 | 09:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pihak kepolisian masih terus melakukan penyisiran di dua hotel, JW Marriott dan Ritz-Carlton, untuk mengetahui penyebab ledakan yang terjadi pukul 08.00, Jumat (17/7).

Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya Kombes Arif W belum berani memastikan, apakah ledakan tersebut disebabkan bom.
“Saya belum berani memastikan bom atau bukan, kekuatannya high atau low explosive, karena masih dilakukan penyisiran,” kata Arif kepada wartawan di lokasi.

Arif mengatakan, pihak kepolisian mengonsentrasikan pengamanan di lokasi ledakan dan di luar atau sekitar Mega Kuningan. Pihak kepolisian juga belum bisa memastikan di mana ledakan terlebih dulu terjadi.


Irjen Pol. Ansyaad Mbai

Jumat, 17 Juli 2009 | 10:20 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Desk Antiteror Kementrian Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Irjen Pol Ansyaad Mbai, mengatakan, ledakan yang terjadi di Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW Marriott, belum dapat dipastikan sebagai aksi terorisme.

“Kita masih harus menunggu hasil penyelidikan polisi, untuk memastikan penyebab ledakan dan motifnya,” katanya, di Jakarta, Jumat (17/7).

Ia mengatakan, pihaknya belum juga melihat kaitan antara ledakan yang terjadi Jumat pagi ini dengan penangkapan sejumlah orang yang diduga kaki tangan pelaku teror Noordin M Top, di Jawa Tengah pekan lalu.
“Saya belum dapat menganalisa sejauh itu, karena ledakan di Mega Kuningan itu kan belum bisa dipastikan sebagai aksi terorisme,” ujar Ansyaad.

Ia menegaskan, pemerintah akan terus melakukan pemberantasan terhadap aksi-aksi terorisme baik dengan jalan soft power maupun hard power. “Kita tidak akan tolerir apapun bentuknya, yang jelas kita akan terus melawan aksi terorisme,” ujar Ansyaad.

Pengamat Duga Bom Marriott Dilatarbelakangi Muatan Politik


Kapanlagi.com – Pengamat Politik Universitas Paramadina, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan, kasus ledakan bom di Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW Marriott di Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (17/07), memunculkan spekulasi adanya muatan politik.

“Diduga ada pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil pemilu,” kata dia, saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (17/07).

Ia menyebutkan, motif ini juga sebagai upaya mendelegitimasi pemenang pilpres hasil penghitungan cepat karena dianggap gagal menjaga stabilitas keamanan.

Menurut dia, spekulasi politik ini memang masuk akal karena jaringan teroris sudah dilumpuhkan sejak beberapa tahun lalu.
“Sel-sel teroris sudah banyak dilumpuhkan sejak beberapa tahun lalu,” kata dia pula.

Sasaran hotel, kata dia, menjadi pengalih perhatian untuk menutupi motif sebenarnya.

Burhanuddin yang juga peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengatakan, spekulasi lain pelaku bom itu juga kemungkinan dilakukan oleh kelompok teroris jaringan Nurdin M Top.

Apalagi kata dia, sasarannya hotel yang memiliki asosiasi dengan asing.

Ia mengharapkan, polisi harus dapat menyelidiki kasus pengeboman tersebut, siapa pelaku dan motif sebenarnya.

Laporan wartawan KOMPAS Wisnu Nugroho

Jumat, 17 Juli 2009 | 15:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Berdasarkan laporan intelijen, ada gerakan-gerakan di masyarakat yang memang menginginkan terjadinya kekacauan pasca penyelenggaraan pemilihan umum presiden.

“Diketahui ada rencana untuk melakukan tindak kekerasan dan melawan hukum berkaitan dengan hasil pemilu. Juga ada rencana pendudukan paksa KPU pada saat nanti hasil suara diumumkan. Ada pernyataan akan ada revolusi jika SBY menang.

Ini bukan rumor, bukan gosip. Bahkan ada pernyataan kita bikin Indonesia seperti Iran. Bagaimanapun juga SBY jangan sampai dilantik. Saudara bisa artikan pernyataan seperti itu,” ungkap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (17/7), menanggapi peristiwa Bom Mega Kuningan yang menewaskan sembilan orang dan melukai setidaknya 50 orang.

Dalam kesempatan itu, Presiden membeberkan temuan intelijen yang selama ini tidak pernah diungkap kepada publik. Antara lain, Presiden menunjukkan foto-foto kelompok teroris yang menjadikan dirinya sebagai sasaran.

Ia mengatakan, peristiwa Bom Mega Kuningan terjadi ketika rakyat merasa prihatin akan kegaduhan politik di tingkat elite disertai ucapan-ucapan yang menurut Presiden bernada menghasut dan memelihara suhu panas dan penuh permusuhan.

Presiden meminta jajaran kepolisian dan pihak berwenang untuk mengusut secara tuntas, apakah peristiwa Bom Mega Kuningan ini terkait persoalan politis atau tidak. Terkait atau tidak, dalang peristiwa ini harus ditangkap.

“Saya juga menginstruksikan penegak hukum untuk mengadili siapa saja yang terlibat, siapa pun dia, apa pun status dan latar belakang politiknya.

Pagi ini saya mendapat banyak pertanyaan atau ada saudara yang mengingatkan kepada saya, yang berteori atau paling tidak mencemaskan kalau aksi teror ini berkaitan dengan hasil pilpres. Saya meresponsnya sebagai berikut bahwa kita tidak boleh main tuding begitu saja.

Semua teori dan spekulasi harus bisa dibuktikan secara hukum. Negara kita negara hukum dan demokrasi. Oleh karena itu, norma hukum dan demokrasi harus ditegakkan,” ungkap Presiden.

Lihat Biografi

LIHAT  FOTO  BOM  RITZ  CARLTON   (Klik Disini)

LIHAT  FOTO  BOM  JW  MARRIOT   (Klik Disini)

Australia Khawatir Tiga Warganya Tewas Insiden Kuningan

Sabtu, 18 Juli 2009 06:33

Kapanlagi.com – Pemerintah Australia mengkhawatirkan tiga warganya termasuk di antara sembilan korban tewas serangan bom teroris di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton Jakarta, Jumat.

Kekhawatiran pemerintah atas nasib ketiga warganya itu disampaikan Perdana Menteri Kevin Rudd, demikian laporan media Australia yang dipantau wartawan di Darwin, Sabtu dini hari (Jumat malam WIB).

Ketiga warga Australia itu adalah Garth McEvoy, Craig Senger dan Nathan Verity. PM Rudd menyebut insiden pemboman dua hotel mewah di kawasan niaga Kuningan Jakarta itu sebagai “saat yang sangat-sangat berat bagi banyak keluarga Australia dan Indonesia”.

Pemerintah Australia mencatat total jumlah warganya yang saat ini ada di Indonesia mencapai 4.745 orang dan 1.053 orang di antaranya tercatat tinggal di Jakarta.

Namun PM Rudd memperkirakan jumlah warganya di Indonesia bisa saja melebihi angka yang tercatat karena banyak warga Australia yang memilih untuk tidak didaftar.

Menanggapi insiden bom Kuningan ini, dalam pernyataan persnya, Rudd mengatakan, pihaknya menawarkan bantuan kepada pemerintah Indonesia, termasuk semua bentuk bantuan forensik identifikasi korban dan kontra-terorisme.

“Kami juga menawarkan bantuan apapun lewat otoritas kesehatan Australia bagi para korban luka bakar,” katanya.

PM Rudd mengatakan, ia pun sudah meminta Dubes Bill Farmer di Jakarta menyampaikan tawaran bantuan pemerintah Australia itu kepada Menlu Nur Hassan Wirajuda maupun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait dengan upaya penanganan insiden pemboman ini.  “Saya berharap bisa segera berbicara dengan Presiden Yudhoyono,” katanya.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu Primo Alui Joelianto berharap tragedi Kuningan ini tidak lantas mengurangi apa yang telah disepakati kedua negara pada konferensi besar hubungan bilateral di Sydney, Februari lalu.

“Kepada Pemerintah Australia, kita inginkan kerja sama yang lebih erat tapi saya juga mengimbau kejadian ini tidak mengurangi apa yang telah kita sepakati pada Konferensi di Sydney bahwa hubungan antar-rakyat (people-to-people/P-to-P) kedua negara harus tetap ditingkatkan,” katanya kepada ANTARA di Darwin.

Ditemui di sela acara perkenalan dirinya selaku Dubes RI dengan warga masyarakat Indonesia di Darwin Primo mengharapkan suara yang mengutuk keras apa yang disebutnya “aksi biadab dan tak berperikemanusiaan terhadap warga tak berdosa” ini juga datang dari seluruh masyarakat Indonesia di Australia.


Presiden Obama Kutuk Pengeboman Di Jakarta

Sabtu, 18 Juli 2009 05:25

Kapanlagi.com – Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengutuk pengeboman di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton Jakarta pada Jumat pagi. Obama menyatakan bahwa pemerintahnya, sebagai sahabat maupun mitra, siap membantu Indonesia untuk memulihkan diri pasca serangan tersebut.

“Saya sangat mengutuk serangan yang terjadi pagi ini di Jakarta dan menyatakan duka cita saya yang terdalam kepada seluruh korban dan orang-orang yang mereka cintai,” kata Presiden Obama dalam pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih di Washington, Jumat (17/7).

Obama menekankan bahwa AS tidak ingin membiarkan Indonesia sendiri dalam menghadapi musibah serangan bom.

“Rakyat Amerika berdiri berdampingan dengan rakyat Indonesia pada saat yang berat ini, dan pemerintah AS siap membantu pemerintah Indonesia dalam menghadapi dan memulihkan diri dari serangan yang keterlaluan ini,” kata Obama.

Obama mencatat bahwa Indonesia sejauh ini telah menunjukkan keberhasilan dalam memerangi terorisme. Namun pada saat yang sama, ia mengingatkan bahwa terorisme tetap menjadi ancaman nyata yang dihadapi semua pihak.

“Indonesia dengan sabar terus memerangi kalangan garis keras yang kejam, dan telah berhasil mengekang kegiatan teroris di wilayahnya.

“Namun, serangan-serangan ini menunjukkan dengan jelas bahwa para ekstrimis terus bertekad untuk membunuhi perempuan, laki-laki dan anak-anak tidak berdosa dan penganut keyakinan apa pun di semua negara,” kata Obama menekankan.

Di akhir pernyataannya, Obama menggarisbawahi bahwa AS akan terus menjalin hubungan dan kerjasama dengan Indonesia dalam menentang terorisme.

“Kami akan terus bermitra dengan Indonesia dalam melenyapkan ancaman dari para penganut garis keras yang kejam ini, dan kami akan teguh dalam mendukung masa depan yang aman dan penuh dengan kesempatan yang terbuka bagi rakyat Indonesia,” kata Obama.

Pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri Hillary Clinton pada Jumat, sebagai reaksi terhadap serangan bom di kedua hotel di Jakarta.

Hillary menyatakan kutukannya terhadap serangan itu dan menyampaikan kesiapan AS untuk membantu Indonesia. “Kami mengutuk aksi kekerasan yang tidak berperikemanusiaan ini dan kami siap memberikan bantuan jika pemerintah Indonesia meminta kami melakukannya,” kata Clinton.

“Serangan itu menunjukkan kekejaman para ekstrimis dan memperingatkan kepada kita bahwa ancaman teroris adalah hal yang sangat nyata,” ujarnya. Ia mengajak Indonesia dan semua negara untuk terus bekerja sama dalam memerangi terorisme.

“Tidak ada prioritas yang lebih tinggi bagi kita selain menghadapi ancaman ini bersama-sama dengan negara-negara lain dengan sama-sama memiliki komitmen untuk membentuk masa depan yang lebih damai dan sejahtera,” katanya. (kpl/dar).


Sejumlah Negara Kutuk Pemboman di Indonesia

Jumat, 17 Juli 2009,-

Kapanlagi.com – Sejumlah negara seperti Australia, Jepang, AS dan Selandia Baru, mengutuk peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (17/7) pagi.

Perdana Menteri (PM) Australia Kevin Rudd mengutuk serangan bom yang terjadi di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton.

Terkait itu, Ruud juga menawarkan bantuan tenaga investigasi untuk mengusut tuntas kejadian yang menewaskan delapan orang dan 53 lainnya luka-luka.

Kepolisian Federal Australia juga menawarkan bantuan dalam hal forensik, identifikasi korban dan melawan terorisme.

PM Rudd menuturkan, serangan bom tersebut membuka kembali kenangan mengerikan bagi warga Australia akan serangan bom di Bali serta serangan bom lainnya di Indonesia dan dunia.

“Ini serangan terhadap kita semua dan kita sedang berurusan dengan beberapa orang yang sangat jahat,” ujar Rudd.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Jepang, Yasuhisa Kawamura menyatakan pemerintahnya turut berduka dengan peristiwa ledakan di dua hotel berbintang lima di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Perwakilan Pemerintah AS di Jakarta, menyatakan mengutuk serangan bom tersebut dan meminta seluruh warganya di Indonesia untuk berhati -hati dan melaporkan kembali dirinya pada setiap perwakilan AS di setiap wilayah RI.

“Kami menyampaikan duka cita mendalam bagi para keluarga korban, dan mengutuk keras insiden tersebut,” kata pejabat kedutaan AS di Indonesia, Perry.

Perdana Menteri Selandia Baru, John Key menyampaikan duka cita mendalam kepada para keluarga korban ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton.

Pemerintah Selandia Baru juga mengutuk serangan itu yang menyebabkan satu warga negaranya tewas yakni Tim MacKay yang merupakan Presiden Direktur PT Holcim Indonesia. (kpl/dar).

Rafans – Kegiatan Terorisme tidak dapat dibenarkan  apalagi diakui keberadaannya baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Terorisme menciptakan rasa ketakutan ditengah-tengah masyarakat serta merugikan banyak pihak di samping mendatangkan korban jiwa dan harta benda.

Kiranya kegiatan terorisme baik di Indonesia maupun di seluruh dunia akan segera berakhir.

Alangkah indahnya jika Kita dan seluruh bangsa hidup rukun dan damai menuju pada suatu kesejahteraan hidup,-

Rafans – Manado, 18 Juli 2009,-

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: