Ensiklik Sosial : Caritas In Veritate (Kasih Dalam Kebenaran)

Pemimpin Umat Katolik Sedunia, Paus Benedictus XVI pada tanggal 7 Juli 2009 telah menerbitkan Ensiklik Sosial yang  berjudul “Caritas In Veritate” atau “Kasih Dalam Kebenaran”. Ensiklik Sosial tersebut dikeluarkan tertanggal 29 Juni 2009 di Vatikan.

Paus Benediktus XVI

Paus Benediktus XVI

Agar supaya Umat Katolik Indonesia dapat memahami akan Ensiklik  baru ini, maka perlu kiranya mencermati dan mendalaminya apa yang dibahas oleh  Pastor atau Romo B. S. Mardiatmadja, sebagai seorang Teolog dan Pastor atau Romo I. Ismartono, SJ, selaku orang lapangan.

Ensiklik “Caritas In Veritate” ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.  Namun mengingat isinya sangat relevan dengan  situasi di dunia saat ini, juga termasuk situasi di Indonesia; maka sambil menunggu terjemahan dari Biro Dokumentasi dan Penerangan KWI, tidak salahnya Umat Katolik di Indonesia baik sebagai pribadi maupun   kelompok-kelompok basis dan kategorial dapat mulai mencermati naskah ini.

Dibawah ini adalah perbincangan yang membahas Ensiklik Sosial yang dikeluarkan oleh Paus, sebagai berikut :

Romo Is:

Mardi yang baik, menurutmu, apakah yang betul-betul baru di dalam ensiklik ini?

Romo Mardi:

Is, pertanyaan itu memikat: ‘apa ada hal baru sih di bawah mentari?’ – apa lagi yang baru yang mau diajukan Paus ini?

Is, saya menangkap beberapa butir menarik dalam Ensiklik Caritas In Veritate  ini, Ensiklik ketiga Paus Benedictus XVI ini. Yang baru apa?

•1.      Ensiklik ini menjadi jelas kalau dibaca dalam kaitan dengan 3 tulisan Paus ini yaitu ‘Deus Caritas Est’, ‘Spes salvi’ dan ‘Yesus dari Nasaret’.

•2.      Kata-kata yang dipakai agak lugas: ia bilang, bahwa ‘cinta tanpa kebenaran akan jadi sentimentil’, sedang ‘kebenaran tanpa cinta jadi dingin dan penuh perhitungan sehingga akhirnya kayak dagang’.

•3.      Tanpa Tuhan, cinta jadi serba itung-itungan karena terus menerus berbatas. Disitu Logos yaitu Tuhan meluaskan cakrawala cinta;

•4.      Di situ Paus mendekatkan ‘Etika Sosial’ dengan ‘Etika Hidup': ‘yang baik dari sudut kehidupan manusia’ itu mempunyai nilai terhadap kebersamaan sehingga ‘yang buruk terhadap hidup’ juga merusak hidup sosial. Itulah dasarnya mengapa baginya aborsi merusak sikap dasar manusia terhadap sesama.

•5. Selain itu, Ensiklik ini secara konkret menyentuh beberapa butir modern seperti  keuangan mikro sebagai unsur mendasar hidup bersama masyarakat; hak milik intelektual sebagai bentuk nyata penghargaan martabat manusia; globalisasi dengan potensi baik maupun kemungkinnya membahayakan martabat manusia, khususnya di negara miskin; pembaharuan faham tentang ‘option for the poor’ dengan menekankan kesediaan tiap orang Katolik untuk menyediakan miliknya bagi sesama yang ‘kurang berada’. Mengapa? Karena semua yang ada pada kita diberikan secara gratis maka kita harus memberikan secara bebas juga. Sebab semua datang karena cinta Allah.

Mengapa Populorum Progressio diulangi lagi di dalamnya?

Is menanyakan kaitan Ensiklik ini dengan Populorum Progressio ‘Humanae Vitae’. Dikatakannya bahwa di mata Paulus VI, hidup perlu dijunjung tinggi pada tahap mana pun. Progress atau Development yang benar tak pernah bisa difahami tanpa kaitan dengan si manusia. Development‘Real Progress’. Maka ekonomi yang mengakibatkan manusia saling membunuh atau suatu suku bangsa merosot, itu bukan ekonomi. Sebab di situ yang membuat manusia rusak itu bukan hidup manusia tidak dihargai. Nilai suatu model perkembangan ekonomi terletak pada jawab atas pertanyaan ‘apakah di dalamnya si manusia dihargai lebih daripada modal atau negara?’ Suatu masyarakat yang memandang rendah hidup manusia dalam tahap apa pun juga akan melecehkan manusia pada lapisan apa pun; bahkan ia akan meremehkan segala yang hidup. Itulah sebabnya mengapa ia melihat juga kaitan erat sekali antara sikap dasar ini dengan ekologi, yakni  hormat terhadap segala yang hidup, bahkan pada seluruh alam semesta. Di situ ia menunjukkan kegagalan kebudayaan dunia masa kini yang mau menghancurkan hidupnya sendiri habis-habisan dengan melecehkan HAM, hidup manusia pada lapisan apa pun dan segala hidup di alam ini. Itulah sumber segala duka derita budaya, politis, ekonomis, medis dan pribadi banyak manusia masa kini. Ilmu pengetahuan sudah memberi peringatan pada kita mengenai keterbatasan manusia ini. Maka cinta pada manusia dan segala yang hidup erat berkaitan dengan pencarian kebenaran ilmiah yang paling dalam. (PP), yaitu  ensiklik Paulus VI tentang perkembangan. Ensiklik ini memang diterbitkan untuk memperingati 40 tahunnya Populorum Progressio. Ensiklik ini memandang tema perkembangan PP dalam kaitan dengan Ensiklik lain yang kontroversial.

Hal baru lain dalam Ensiklik ini adalah penegasan Paus yang menunjukkan kaitan erat antara logika kontrak ekonomis (‘do ut des’: aku beri supaya kau beri) dengan logika koalisi politis (‘aku beri karena kepentingan politis mewajibkan aku memberimu’) dengan menambahkan sikap batin cintakasih (‘aku beri karena aku mencintaimu dan baiklah bahwa aku memberimu’). Dengan kata lain,keuntungan ekonomis dan keuntungan politis tidak memadai untuk membangun persaudaraan manusiawi kalau tidak dilengkapi dengan persaudaraan rohani: karena dasar cinta; dan cinta itu mempunyai implikasi dalam kebenaran-kebenaran ekonomis dan politis.

Karena kaitan itu maka Paus mendukung sekali pengorganisasian buruh agar logika kontrak ekonomi maupun logika koalisi politis diatasi secara struktural melalui proses perundingan konstruktif. Hal itu menuntut bahwa managemen perusahaan dan pemilik modal mewujudkan rasa tanggung jawabnya dalam mengintegrasikan pekerja di seluruh proses pengambilan keputusan hal-hal yang menyangkut hidup buruh.

Paus juga meneruskan, bahwa pemikiran di atas menuntut kerjasama lintas negara: sebab sekarang ini tidak ada urusan ekonomi dan politis serta ekologis yang seluruhnya dapat diselesaikan tanpa kerjasama internasional. Kerjasama itu tidak mungkin tanpa hubungan tulus dan terbuka. Caritas Internasional erat terkait dengan kebenaran internasional: bukan kucing-kucingan. Kerjasama ekonomi dan politik serta kebudayaan internasional dinilai dari sudut: ‘sejauh manakah mengembangkan kemanusiaan dan sejauh mana tidak malah menyebabkan semakin banyaknya  kematian, pelecehan hak azasi manusia, penghancuran ekonomi rakyat miskin serta pemburukan sikap dasar terhadap kesehatan dan hidup manusia.

Jadi Ensiklik ini menegaskan isi PP dan juga membaharuinya. Ia ingin menunjukkan, betapa nilai-nilai rohani mendasari perkembangan sejati ekonomi dan politik serta budaya manusia, juga masa kini dan mendatang. Bila tidak, ekonomi, politik, dan kebudayaan tidak memperkaya manusia dan tidak layak bagi manusia. Paus ingin melihat bahwa Caritas itu lebih dari pada sekedar memberi kepada si miskin tetapi yang lebih mendasar lagi: mengakui bahwa semua datang dari cinta Allah. Itulah kebenaran yang terdalam.  Jadi ini memang refleksi teologis tentang Keadilan Sosial: mendahulukan si Kecil itu memang bagian dari keharusan ekonomis, hal mutlak dalam kewajiban politis, unsur hakiki dalam kebudayaan tetapi yang terdalam adalah bahwa itu bagian tak terpisahkan dari pengakuan kita atas iman “Kita diciptakan oleh cinta Allah yang serba murah hati dan bahkan ditebus kembali kendati egoisme manusia”. Tampak sekali usaha memadukan iman, refleksi teologis dengan kenyataan empirik di dunia ekonomi, politis, internasional dan budaya.-

Semoga bahasan tersebut diatas dapat bermanfaat bagi seluruh Umat Katolik, termasuk mungkin bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Rafans – Manado, 28 Juli 2009,- (Referensi & Kutipan dari Mirifica New – http://www.mirifica.net,-

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: